BAB II
METODE ILMIAH DAN LANGKAH-LANGKAH
OPERASIONALNYA
A.
Metode Ilmiah
Adanya perkembangan pola berpikir manusia dimulai dari zaman Babylonia
(kurang lebih 650 SM ) dimana orang percaya kepada mitos, ramalan nasib
berdasarkan perbintangan, bahkan percaya adanya dewa.
Ada dewa angin, dewa matahari, dewa petir
dan sebagainya.
Pengetahuan itu mereka peroleh dengan
berbagai cara antara lain :
1.
Prasangka, yaitu suatu anggapan benar padahal
baru merupakan kemungkinan benar atau kadang-kadang malah tidak mungkin benar.
Contoh: pada zaman Babylonia, orang percaya bahwa
hujan dapat turun dari surga kebumi melalui jendela-jendela yang ada dilangit.
Dengan perasangka, orang serius mengambil keputusan yang keliru.
Prasangka hanya berguna untuk mencari kemungkinan
suatu kebenaran.
2.
Intuisi, Yaitu suatu pendapat seseorang yang
diangkat dari perbendaharaan pengetahuannya terdahulu melalui suatu proses yang
tak disadari, jadi seolah-olah begitu saja muncul pendapat itu tampa dipikir.
Pengetahuan yang dicapai dengan cara demikian sukar
dipercaya, ungkapan-ungkapannya sering juga masuk akal namun belum tentu cocok
dengan kenyataan.
3.
“Trial And Error”, yaitu metode coba-coba atau
untung-untungan. Cara ini dapat diibaratkan seperti seekor kera yang mencoba
meraih pisang dalam sebuah kerangkeng dari percobaan kohler, seorang psikolog
jerman. Kera kera itu dengan cara coba-coba akhirnya dapat juga meraih pisang
dengan menggunakan tongkat.
Pengetahuan manusia yang diperoleh melalui
cara ini banyak sekali, yaitu sejak zaman manusia purba sampai sekarang. Banyak
pula penemuan hasil “Trial and error” sangat bermanfaat bagi manusia, misalnya,
dikemukakannya rendaman kulit kina untuk obat malaria. Penemuan dengan cara
coba-coba ini jelas tidak efisien sebagai suatu cara untuk mencari kebenaran.
Zaman yunani orang cenderung untuk
mengikuti saja ajaran dari “para ahli pikir” ataupun para penguasa. namun,
ajaran-ajaran ini ternyata banyak yang keliru karena ahli-ahli pikir itu
terlalu mengandalkan atas pemikiran atau akal sehat dan kebenaran yang dianut
itu adalah yang masuk akalnya. Contohnya setiap hari kita melihat matahari
terbit ditimur lalu terbenam dibarat. Maka nasuk akallah bila dikatakan bahwa
matahari beredar mengelilingi bumi. Contoh lain, bila kayu dibakar maka berubah
jadi api, udara dan abu (tanah). Maka menurut akal sehat untuk dasar pembentuk
kayu itu adalah tanah, api dan udara.
Pengetahuan yang didapat dengan cara-cara
tersebut diatas termasuk pada golongan pengetahuan yang tidak ilmiah. Lalu
bagaimanakah pengetahuan yang ilmiah atau cara yang disebut “ilmu
pengetahuan” itu ? jawaban singkat dari pernyataan tersebut diatas
adalah sebagai berikut,
Pengetahuan dapat dikatakan ilmiah bila
pengetahuan itu memenuhi empat syarat : obyektif,
metodik, sistematik, dan universal (berlaku umum).
1)
Objektif
Artinya pengetahuan itu
sesuai dengan objeknya. Maksudnya adalah bahwa kesesuaian itu dibuktikan dengan
hasil pengindraan atu ampiris.
Contoh : Galileo dapat
dianggap tokoh perintis ilmu pengetahuan khususnya ilmu alam, karena ia berani
menantang kepercayaan yang ada pada masa itu yang berani yang berlawanan dengan
hasil pengamatannya. Ia mengajarkan kepada murid-miridnya untuk tidak begitu
saja mempercayai ajaran Aristoteles dan hendaknya melakukan eksperimen serta
membuat kesimpulan atas hasil observasinya itu. Singkatnya Galileo mendambakan
“kebenaran” yang objektif atas dasar ampiris.
2)
Metodik
Artinya pengetahuan itu
diperoleh dengan menggunakan cara-cara tertentu yang teratur dan terkontrol.
3)
Sistematik
Artinya pengetahuan
ilmiah itu tercantum dalam suatu sistem, tidak berdiri sendiri, satu dengan
yang lain saling berkaitan, saling menjelaskan sehingga yang seluruhnya
merupakan satu kesatuan.
4)
Berlaku
umum (universal)
Artinya pengethuan itu
tidak hanya berlaku atau dapat diamati oleh seseorang atau oleh beberapa orang
saja tetapi semua orang, dengan cara eksperimental yang sama akan memporoleh
hasil yang sama atau konsisten.
Contoh : melalui
teropongnya Galileo menemukan adanya gunung-gunung dibulan. Pengetahun ini
tidak hanya berlaku bagi Galileo, tetapi setiap orang bila menggunakan teropong
yang sama dengan cara yang sama akan memperoleh pengetahuan yang sama, yaitu,
bahwa dibulan ada gunung-gunung.
B. Langkah-Langkah Operaional Metode Ilmiah
Salah satu syarat ilmu pengetahuan
ialah bahwa materi pengetahuan itu harus diperoleh melalui metode ilmiah, ini
berarti bahwa cara memperoleh pengetahuan itu menentukan apakah pengetahuan itu
termasuk ilmiah atau tidak. Metode ilmiah tentu saja harus menjamin akan
menghasilkan pengetahuan yang ilmiah, yaitu yang bercirikan objektivitas,
konsisten dan sistematik.
Langkah-langkah operasionalnya
adalah sebagai berikut,
1)
Perumusan
masalah
Yang dimaksud
dengan masalah disini adalah merupakan pertanyaan, apa, mengapa, ataupun bagaimana
tentang objek yang diteliti. Masalah itu harus jelas batas-batasnya serta
dikenal faktor-faktor yang mempengaruhinya.
2)
Penyusunan
hipotesis
Yang dimaksud sengan
hipotesis adalah suatu pernyataan yang menunjukkan kemungkinan-kemungkinan
jawaban untuk memecahkan masalah yang telah ditetapkan. dengan kata lain,
hipotesis merupakan dugaan yang tentu saja didukung oleh pengetahuan yang ada.
Hipotesis juga dapat dipandang sebagai jawaban, sementara dari permasalahan
yang harus diuji kebenarannya dalam suatu obsevasi atau eksperimentasi.
3)
Pengujian
hipotesis
Yaitu berbagai
usaha pengumpulan fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis yang telah diajukan
untuk dapat memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak. fakta-fakta dapat
diperoleh melalui pengamatan langsung dengan mata atau melalui teleskop atau
dapat juga melalui uji coba atau eksperimentasi, kemudian faktor-faktor itu dikumpulkan
melalui penginderaan.
4)
Penarikan
kesimpulan
Penarikan
kesimpulan ini didasarkan atas penilaian melalui analisis dari fakta-fakta
(data) untuk melihat apakah hipotesis yang diajukan itu diterima atau tidak.
Hipotesis itu dapat diterima merupakan suatu pengetahuan yang kebenarannya
telah diuji secara ilmiah , dan merupakan bagian dari ilmu pengatahuan.
Keseluruhan langkah tersebut diatas harus
ditempuh melalui urutan yang teratur dimana langkah yang satu merupakan
landasan bagi langkah berikutnya. Dari keterangn-keterangan tersebut diatas
dapat disimpulkan bahwa ilmu pengetahuan merupakan pengetahuan telah teruji
secar ampiris.
C. Keterbatasan
dan keunggulan metode ilmiah
1)
Keterbatasan
Dengan metode ilmiah dapat dihasilkan
pengetahuan yang ilmiah, kita telah mengetahui bahwa data yang digunakan untuk
mengambil kesimpulan ilmiah itu berasal dari pengamatan. Kita mengetahui pula
bahwa panca indra kita juga mempunyai keterbatasan kemampuan untuk menangkap
suatu fakta, sehingga tidak disangsikan lagi bahwa fakta-fakta yang dikumpulkan
adalah keliru sehingga kesimpulan yang diambil dari fakta-fakta yang keliru
juga akan keliru. Jadi kemungkinan keliru dari suatu kesimpulan ilmiah itu
tetap ada. Oleh karen itu semua kesimpulan ilmiah atau dengan kata lain
kebenaran ilmu pengetahuan termasuk ilmu pengetahan alam (IPA) bersifat
tentatif. Artinya, sebelum ada kebenaran ilmu yang dapat menolak kesimpulan itu
maka kesimpulan itu dianggap benar. Sebaliknya, kesimpulan ilmiah yang dapat
menolak kesimpulan ilmiah terdahulu menjadi kebenaran ilmu yang baru, sehingga
tidak mustahil suatu kesimpulan ilmiah bisa saja sesuai dengan perkembangan
ilmu pengetahuan itu sendiri. Tidak demikian halnya dengan pengetahuan yang
didapat dari wahyu ilahi. Kebenaran dari pengetahuan ini bersifat mutlak,
artinya tidak akan kembali sepanjang masa.
Metode
ilmiah memang tidak sanggup menjangkau untuk menguji adanya tuhan,
metode ilmiah juga tidak dapat menjangkau untuk membuaat kesimpulan berkenaan
dengan baik dan buruk atau sistem nilai, juga tidak dapat menjangkau tentang
seni dan keindahan.
2)
Keunggulan
Seperti telah dijelaskan bahwa ciri khas
ilmu pengetahuan yang sifatnya objektif, metodik, sistematis dan berlaku umum
itu akan membimbing kita pada sikap ilmiah yang terpuji sebagai berikut:
a. Mencintai kebenaran yang objektif adil dan itu
semua akan menjurus kearah hidup yang bahagia.
b. Menyadari
bahwa kebenaran ilmu itu tidak absolut, hal ini dapat menjurus kearah mencari
kebenaran itu terus menerus.
c. Dengan
pengetahuan, orang lain tidak percaya pada takhayul, astrologi maupun
untung-untungan karena sejak sesuatu dialam semesta ini terjadi melalui suatu
proses yang teratur.
d. Ilmu
pengetahuan membimbing kita untuk ingin tahu lebih banyak. Ilmu pengtahuan yang
kita peroleh tentunya akan sangat membantu pada kehidupan kita.
e. Ilmu
pengetahuan membimbing kita untuk, tidak berfikir secara prasangka tetapi
berfikir secara terbuka atau objektif, suka menerima pendapat orang lain atau
bersikap toleran
f. Metodeilmiah
membimbing kita untuk tidak percaya begitu saja pada suatu kesimpulan tampa
adanya bukti-bukti yang nyata.
g. Metode
ilmiah juga membimbing kita selalu bersikap optimis, teliti dan berani membuat
suatu pernyataan yang menurut keyakinan ilmiah kita adalah benar.