Sabtu, 13 Juli 2013

PENGANTAR FILSAFAT

BAB 1
PENGANTAR FILSAFAT
A. Pengertian Filsafat
     Arti Etimologi
              Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani Filosofia, yang berarti dari kata filosofein yang berarti   mencintai, kebijaksanaan. kata tersebut juga berasal dari kata kerja Philein yang berarti mencintai, atau philia yang berarti cinta, dan Sophia yang berati kearifan. Dari kata tersebut lahirlah kata inggris Philosophy yang berasal dari kata kerja philein yang berati mencintai, atau philia yang berati cinta, dan sophia yang berati kearifan, dari kata tersebut lahirlah kata inggris philosophy yang biasanya diterjemahklan sebagai "Cinta Kearifan".
 
B. Obyek Materi dan Obyek Forma Filsafat
              Semua ilmu pengetahuan pasti mempunyai obyek materi dan obyek forma, yang disebut obyek materi adalah hal atau bahan yang diselidiki (hal yang dijadikan sasaran penyelidikan). sedangkan obyek forma adalah sudut pandang (point of view), dari mana hal atau bahan tersebut dipandang.
              Misalnya, ilmu alam obyek formanya perubahan dan bangunan benda. ilmu kimia obyek formanya susunan benda. Ilmu gaya obyek formanya kekuatan dan gerak benda. sehingga ketiga benda tersebut diatas mempunyai obyek forma yang berbeda, akan tetapi ketiga ilmu tersebut mempunyai obyek materi yang sama yaitu benda.
              Bagaimana dengan obyek materi dalam obyek formanya filsafat? 
Obyek materi filsafat adalah segala sesuatu yang ada. "Ada" disini mempunyai tiga pengertian, yaitu ada dalam kenyataan, pikiran, dan kemungkinan, sedang obyek forma filsafat adalah menyeluruh secara umum. Menyeluruh berati bahwa filsafat dalam memandangnya dapat mencapai hakikat (mendalam), atau tidak ada satupun yang berbeda diluar jangkauan pembahasan filsafat. Umum Berarti bahwa dalam hal tertentu, hal tersebut dianggap benar selama tidak merugikan kedudukan filsafat sebagai ilmu.
              Menurut Ir. Poedjawijatna, objek materi filsafat adalah ada dan tidak ada dan yang mungkin ada. Obyek materi filsafat tersebut sama dengan obyek materi dari ilmu seluruhnya yang menentukan perbedaan ilmu yang satu dengan yang lainnya adalah obyek formanya, sehingga, kalau ilmu membatasi diri dan berhenti pada dan berdasarkan pengalaman, sedangkan filsafat tidak membatasi diri, filsafat hendak mencari keterangan yang sedalam-dalamnya, ilmiah obyek forma filsafat.
 
C. Ciri-ciri Pemikiran Filsafat
              Menurut Clarence I Lewis seorang ahli logika mengatakan bahwa filsafat itu sesungguhnya suatu proses refleksi dari bekerjanya akal. Sedangakan sisi yang terkandung dalam proses refleksi dalam berbagai kegiatan/problem kehidupan tersebut dikatakan sampai pada derajat pemikiran filsafat, tetapi dalam kegiatan atau problem yang terdapat beberapa ciri yang dapat mencapai derajat pemikiran filsafat adalah sebagai berikut :

1. Sangat umum atau universal
              Pemikiran filsafat mempunyai kecenderungan sangat umum, dan tingkat keumumannya sangat tinggi (the question tend to be vety of general problem of the highest degree of generality). karena pemikiran filsafat tidak bersangkutan dengan obyek-obyek khusus, akan tetapi bersangkutan dengan konsep-konsep yang sifatnya umum, misalnya tentang manusia, tentang keadilan, tentang kebebasa, dan lainnya.

2. Tidak faktual
              Kata lain tidak factual adalah spekulatif, yang artinya filsafat membuat dugaan-dugaan yang masuk akal mengenai sesuatu dengan tidak berdasarkan pada bukti. Hal ini sebagai sesuatu hal yang melampaui tapal batas dari fakta-fakta pengetahuan ilmiah. Jawaban yang didapat dari dugaan-dugaan tersebut sifatnya juga spekulatif. Hal ini berarti bahwa pemikiran filsafat tidak ilmiah, akan tetapi pemikiran filsafat tidak termasuk dalam lingkup kewenangan ilmu khusus.

3. Bersangkutan dengan nilai
              C.J. Ducasse mengatakan bahwa filsafat merupakan usaha untuk mencari pengetahuan, berupa fakta-fakta, yang disebut pemikiran yang dibicarakan dalam penilaian adalah tentang yang baik dan yang buruk, yang susila dan asusila dan akhirnya filsafat sebagai suatu usaha untuk mempertahankan nilai. makla selanjutnya dibentuklah sistem nila, sehingga lahirlah apa yang disebutnya sebagai nilai sosial, nilai keagamaan, nilai budaya, dan lainnya. Selanjutnya, Ducasse menyatakan bahwa tugas filsafat dewasa ini memberikan patokan-patokan dan membicrakan persoalan-pesoalan moral yang disajikan kepada manusia oleh lingkungan sosialnya.

4. Berkiatan dengan arti
               Telah dikemukakan diatas bahwa nilai selalu dipertahankan dan dicari. Sesuatu yang bernilai tentu didalamnya penuh dengan arti, para filosof harus dapat menciptakan kalimat-kalimat yang logis dan bahasa yang tepat (ilmiah) semua itu berguna untuk menghindari adanya kesalahan/sesat pikir (fallacy).

5. Implikatif
                Pemikiran filsafat yang baik dan terpilih selalu mengandung implikasi (akibat logis). Dari implikasi tersebut diharapkan akan mampu melahirkan pemikiran baru sehingga akan terjadi proses pemikiran yang dinamis, dari tesis keanti tesis kemudian sintesis, dan seterusnya, sehingga tidak habis-habisnya. Pola pemikiran yang (dialektis) akan dapat menyuburkan intlektual.
D. Cabang-cabang Filsafat
                Filsafat sangat luas cakupannya, merupakan bidang study sedemikian luasnya sehingga diperlukan pembagian yang lebih kecil lagi. 
                Filsafat dapat dikelompokkan menjadi empat (4) bidang induk sebagai berikut:

1. filsafat tentang pengetahuan, terdiri dari :
    a. Episternologi
    b. Logika
    c. Kritik ilmu-ilmu

2. Filsafat tentang keseluruhan kenyataan, terdiri dari:
    a. Metafisika umum (ontology)
    b. Metafisika khusus, terdiri:
        1) Teologi metafisik
        2) Antropologi
        3) Kosmologi

3. Filsafat tentang tindakan, terdiri dari:
    a. Etika
    b. Estetika

4. Sejarah filsafat
                Pembagian filsafat secara sistematis yng didasarkan pada sistematika yang berlaku didalam kurikulum akademis :
     1. Meetafisika (filsafat tentang hal yang ada)
     2. Epistemologi (teori tentang metode)
     3. Metodologi (Teori tentang metode)
     4. Logika (Teori tentang penyimpulan)
     5. Etika (filsafat tentang pertimbangan moral)
     6. Estetika (filsafat tentang keindahan)
     7. Sejarah filsafat.
                Pembagian filsafat berdasar pada struktur pengetahuan filsafat yang berkembang sekarang ini, terbagi menjadi tiga (3) bidang, yaitu filsafat sistematis, filsafat khusus, dan filsafat keilmuan.

1. Filsafat sitematis, terdiri :
     a. Metafisika
     b. Epistemologi
     c. Metodologi
     d. Logika
     e. Etika
     f.  Estetika

2. Filsafat khusus
     a. filsafat seni
     b. Filsafat kebudayaan
     c. Filsafat pendidikan
     d. Filsafat sejarah
     e. Filsafat bahasa
     f. Filsafat hukum
     g. Filsafat budi
     h. Filsafat politik
     i. Filsafat agama
     j. FIlsafat kehidupan sosial
     k. FIlsafat nilai

3. Filsafat keilmuan 
    a. Filsafat matematik
    b. Filsafat ilmu-ilmu fisik
    c. Filsafat biologi
    d. Filsafat linguistic
    e. Filsafat psikologi
    f. Filsafat ilmu-ilmu sosial
                Dalam studi filsafat untuk memahaminya secara baik paling tidak kita harus mempelajari lima bidang pokok, yaitu metafisika, epistemologi. logika, etika,dan sejarah filsafat.

1. Metafisika
                Merupakan cabang filsafat yang memuat suatu bagian dari persoalan filsafat yang :
    a. membicarakan tentang prinsip-prinsip yang paling universal
    b. Membicarakan sesuatu yang bersifat keluarbiasaan (beyond nature)
    c. Membicarakan karakteristik hal-hal yang sangat mendasar, yang berada diluar pengalaman manusia  (immediate experience).
    d. membicarakan persoalan-persoalan seperti : hubungan akal dengan benda, hakikat perubahan, pengertian tentang kemerdekaan, wujud tuhan, kehidupan setelah mati dan lainnya.
                 Metafisika ini suatu cabang filsafat yang paling sulit dipahami, terutama bagi pemuda belajar filsafat. fada umumnya fiolosoof komtemporer yang orientasinya pada pengetahuan ilmiah, terhadap metafisika lebih skeptic.

2. EPistetmologi
                 Epistemologi lazimnya disebut teori pengetahuan yang secara umum membicarakan mengenal sumber-somber, karakteristik dan kebenaran pengetahun. Persoalan Epistemologi (teori pengetahuan) berkaitan erat dengan persoalan metafisika. Bedanya, persoalan epistemologi berpusat pada apakah yang ada, yang didalamnya memuat:
-  Problem asal pengetahuan (origin)
   Apakah sumber-sumber pengetahuan; darimana pengetahuan yang benar, dan bagaimana kita dapat mengetahui; problem penampilan (appereance); apakah yang menjadi karakteristik pengetahuan ?; adalah didunia riil diluar akal, apabila ada dapatkan diketahui; problem mencoba kebenaran (verification); apakah pengetahuan kita iyu bena; bagemana membedakan antara kebenaran dan kekeliruan.

3. Logika
                 Logika adalah bidang  pengetahuan yang  mempelajari segenap sas, aturan, dan tatacara penalaran yang betul (Correct reasoning), pada mulanya logika sebagai pengetahuan rasional (episteme). Oleh Aristoteles logika disebutnya sebagai analitika, yang kemudiakan dikembangkan oleh para ahli abat tengah yang disebut logika tradisional. Mulai akhir abad ke-19, oleh George Boole logika tradisional dikembangkan memnjadi logika medern sehingga dewasa ini logika telah menjadi bidang pengetahuan yang amat luas yang tidak lagi semata-mata bersifat filsafati, tetapi bercorak teknis dan ilmiah.LOgika modern saat ini berkembang menjadi logika perslambang, logika kewajiban, logika ganda nilai, logika intuisionistik, dan berbagai sistem logika tak baku.

4. Etika 
                 Atau filsafat perilaku sebagai suatu cabang filsafat yang membicarakan "tindakan" manusia dengan penekanan yang baik dan buruk. Terdapat dua hal permasalahan, yaitu yang menyagkut "tindakan" dan "baik buruk". Apabila permasalahan jatuh pada "tindakan" maka etika disebut "filsafat normatif".
                 Dalam pemahaman "etika" sebagai pengetahuan mengenai norma baik buruk dalam tindakan mempunyai persoalan yang luas. Etika yang demikian ini mempersoalkan tindakan manusia yang dianggap baik yang harus dijalankan, dibedakan dengan tindakan buruk/jahat yang dianggap tidak manusiawi. Sejalan dengan ini, etika berbeda dengan "Agama"  yang didalamnya juga memuat dan memberikan norma baik buruk dalam tindakan manusia. Pasalnya, etika menghandalkan pada rasio semata yang lepas dari sumber wahyu agama yang dijadikan sumber norma ilahi, dan etika lebih cenderung bersifat analitis dari pada praktis. Dengan demikian, etika adlah ilmu yang bekerja secara rasional.
                 Sementara dari kalangan non filsafat, etika sering digunakan sebagai pola bertindak praktis (etika profesi), misalya bagaimana menjalankan bisnis yang bermoral (dalam etika bisnis).

5. Sejarah filsafat
                 Sejarah filsafat adalah laporan suatu peristiwa yang berkaitan dengan pemikiran filsafat. biasanya sejarah filsafat ini memuat berbagai pemikiran kefilsafatan (yang beraneka ragam) mulai dari zaman modern. juga, dengan mengetahui pemikiran filsafat para ahli pikir (filosof) ini akan didapat berbagai ragam pemikiran dari dahulu hingga sekarang. Didalam sejarah filsafat akan diketahui pemikiran-pemikiran yang genius sehingga pemikiran tersebut dapat mengubah dunia, yaitu dengan ide-ide/gagasan-gagasannya yang cemerlang.

 
E. Kedudukan Ilmu Filsafat dan Agama
                  Ilmu, filsafat, dan agama mempunyai hubungan yang terkait dan reflektif dengan manusia. Dikatakan terkait karena ketiganya tidak dapat bergerak dan berkembang apabila tidak ada tiga alat dan tenaga utama yang berada dalam diri manusia.Tiga alat dan tenaga utama manusia adalah akal pikiran, rasa, dan keyakinan sehingga dengan ketiga hal tersebut manusia dapat mencapai kebahagian bagi dirinya.         
                  Ilmu filsafat dapat bergerak dan berkembang berkat akal pikiran manusia. Juga, agama dapat bergerak dan berkembang berkat adanya keyakinan. Akan tetapi, ketiga alat dan tenaga utama tersebut dapat berhubungan dengan ilmu, filsafat dan agama apabila tidak didorong dan dijalankan oleh kemauan manusia yang merupakan tenaga tersendiri yang terdapat dalam diri manusia.
                  Dikatakan reflektif, karena ilmu, Filsafat, dan agama baru dapat dirasakan (diketahui) faedahnya/manfaatnya dalam kehidupan manusia, apabila ketiganya merekleftif (lewat proses pantul diri) dalam diri manusia.
                  Ilmu mendasarkan pada akal pikir lewat pengalaman dan indera, dan filsafat mendasarkan pada otoritas akal murni secara bebas dalam penyelidikan terhadap kenyatan dan pengalaman terutama dikaitkan dengan kehidupan manusia. sedangkan agama mendasarkan pada otoritas wahyu.
                  Menurut Prof. Nasroen, SH. mengemukakan bahwa filsafat yang sejati haruslah berdasar pada agama dan filsafat hanya semata-mata berdasarkan atas akal fikir saja, filsafat tersebut tidak akan memuat kenaran objektif karena yang memberikan penerangan dan putusan adalah akal pikiran.
semata-mata akan tidak sanggup memberi kepuasan bagi manusia, terutama dalam rangka pemahamannya terhadap yang gaib.

F. Beberapa Kegunaan Mempelajari Filsafat

a. Dengan belajar filsafat diharapkan akan dapat menambah ilmu pengetahuan akan bertambah pula  cakrawala pemikiran, cakrawala pandang yang semakin luas. Hal ini akan membantu menyelesaikan masalah yang selalu kita hadapi dengan cara yang lebih bijaksana.

b. Dasar semua tindakan adalah ide, sesungguhnya filsafat didalamnya memuat ide-ide yang fundamental. ide-ide itulah yang akan membawa manusia kearah suatu kemampuan untuk menentang kesadarannya dalam segal tindakannya, sehingga manusia akan dapat lebih hidup, lebih tanggap (peka) terhadap diri dan lingkungannya, lebih sadar terhadap dan kewajibannya.

c. Dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kita semakin ditantang dengan memberikan alternatifnya. disatu sisi kita berhadapan dengan kemajuan teknologi beserta dampak negatifnya, perubahan demikian jauh dari tata nilai dan moral, akibatnya banyak ilmuan kehilangan bobot kebijaksanaannya. dengan demikian apa yang dihasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi bersama itupula manusia kehilangan pendirian dan dihantui kebingungan dan keraguan (skeptic). Tinggal menuggu malapetaka datang menghancurkan kehidupan manusia. Mengingat hal tersebut diatas, kita sangat memerlukan suatu ilmu yang sifatnya memberikan pengarahan (ilmu pengarahan) atau Sence of direction. Dengan ilmu tersebut, manusia dibekali atau kebijaksanaan yang didalamnya memuat nilai-nilai kehidupan untuk mengetahui mana yang pantas kita tolak, mana yang pantas kita setujui, mana yang pantas kita ambil sehingga dapat memberikan makna kehidupan.
Kegunaan filsafat ini sering muncul bagi para pemula belajar ffilsafat. masalah tersebut masih berada dalam diri seseorang sedang belajar filsafat, maka orang tersebut akan selalu mendapatkan keraguan terhadap filsafa.
Apakah filsafat bermanfaat bagi saya ?
                 Filsafat berguna bagi manusi apabila filsafat tersebut memperlihatkan kemajuan yang positif bagi kehidupan manusia.

G. Mtode-metode Filsafat
Bagaimana seorang filosof bekerja?
                 Para ahli pikir (filosof) dalam melaksanakan pekerjaannya tidak berbeda dengan cara bekerjanya sebuah pabrik. Bagaimana seseorang ahli pikir (filosof) adalah bepikir, yaitu mengadakan kegiatan kefilsafatan, sedangkan bekerjanya sebuah pabrik menghasilkan proses produksi.
                 Kegiatan berpikir atau kegiatan kefilsafatan sesungguhnya berupa "perenungan". Perenungan tersebut untuk menyusun suatu bagan yang konsepsional, tidak boleh memuat pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya kontradiktif hubungan bagian antara satu dengan yang lainnya harus logis, dan harus mampu memberi penjelasan tentang pandangan dunia. Dengan kata lain kegiatan kefilsafatan berarti bagaimana seseorang ahli pikir memulai belajar-proses bekerjasama-sampai pada suatu kesimpulan. Sebagai perangkat berfikir adalah analisis dan sintesis. Dalam menganalisis dan mensitesia para ahli pikir menggunakan alat pemikiran berupa logika, dedukasi, analogi dan komparasi.

> Analisis 
                 Pengertian analisis dalam kegiatan filsafat adlah rincian istilah-istilah atau pernyataan-pernyataan dalam bagian-bagiannya sehingga kita dapat melakukan pemeriksaan atas makna yang terkandung.
                 Sebagai contoh adalah perkataan "nyata" dibawah ini.
              - Apakah sebuah meja itu sesuatu yang nyata?
              - Apakah impian itu sesuatu yang nyata? 
                 Maksud analisis adalah melakukan pemeriksaan secara konsepsional terhadap makna dan istilah yang kita pergunakan dalam pernyataan yang kita buat. Dengan nalisis, kita akan memperoleh makna yang baru, dan menguji istilah-istilah dengan berbagai contoh. 
> Sintesis 
                 Sintesis sebagai upaya mencari kesatuan didalam keragaman. Maksudnya, mengumpulkan suatu pengetahuan yang dapat diperoleh. Karena dalam menyusun sistem pemikiran seorang ahli pikir (filsafat) mendasarkan pikirannya pada sejumlah besar bahan yang dicari. Lebih banyak keterangan yang di peroleh, hasilnya akan lebih baik dan akurat.
                 Logika adalah ilmu pengetahuan tentang penyimpulan yang lurus serta mengurangi tentang aturan-aturan/cara-cara untuk mencapai kesimpulan dari premis-premis.
                 (Logika) induksi membicarakan penarikan kesimpulan bukan dari pernyataan yang khusus. kesimpulannya bersifat probabilitas berdasarkan atas pernyataan yang telah disajikan.
                 (Logika) dedukasi membicarakan cara untuk mencapai suatu kesimpulan dengan lebih dahulu mengajukan pernyataan mengenai semua /sejumlah diantara suatu kelompok barang tertentu.
                 Analogi dan komparansi merupakan upaya untuk mencapai suatu kesimpulan dengan menggantikan dengan apa yang kita coba untuk membuktikannya dengan sesuatuyang seruppa dengan hal tersebut. Menyimpulkan kembali apa yang mengawali penalaran kita.
                 Dalam bidang filsafat tertdapat beberapa metode. Metode berasal dari kata meta-hodos, artinya menuju, melalui cara, jalan. Metode sering diartikan sebagai jalan berfikir dalam bidang keilmuan. metode dalam bidang filsafat sebagai berikut.

a. Metode ktitis, yaitu dengan menganalisis istilah dan pendapat dengan mengajukan pertanyaan secara terus-menerus sampai hakikat yang ditanyakan.

b. Metode intuitif, yaitu dengan melakukan intropeksi intuitif dengan memakai simbol-simbol.

c. Metode analisis abstraksi, yaitu dengan jalan memisah-misahkan atau menganalisis didalam angan-angan (didalam pikiran) hingga sampai hakikat (ditemukan jawaban).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar