Sabtu, 03 Agustus 2013

METODE ILMIAH DAN LANGKAH-LANGKAH OPERASIONALNYA

BAB II
METODE ILMIAH DAN LANGKAH-LANGKAH
OPERASIONALNYA


A.      Metode Ilmiah
            Adanya perkembangan pola berpikir manusia dimulai dari zaman Babylonia (kurang lebih 650 SM ) dimana orang percaya kepada mitos, ramalan nasib berdasarkan perbintangan, bahkan percaya adanya dewa.
Ada dewa angin, dewa matahari, dewa petir dan sebagainya.
Pengetahuan itu mereka peroleh dengan berbagai cara antara lain :
1.       Prasangka, yaitu suatu anggapan benar padahal baru merupakan kemungkinan benar atau kadang-kadang malah tidak mungkin benar.
Contoh: pada zaman Babylonia, orang percaya bahwa hujan dapat turun dari surga kebumi melalui jendela-jendela yang ada dilangit. Dengan perasangka, orang serius mengambil keputusan  yang keliru.
Prasangka hanya berguna untuk mencari kemungkinan suatu kebenaran.
2.       Intuisi, Yaitu suatu pendapat seseorang yang diangkat dari perbendaharaan pengetahuannya terdahulu melalui suatu proses yang tak disadari, jadi seolah-olah begitu saja muncul pendapat itu tampa dipikir.
Pengetahuan yang dicapai dengan cara demikian sukar dipercaya, ungkapan-ungkapannya sering juga masuk akal namun belum tentu cocok dengan kenyataan.
3.       “Trial And Error”, yaitu metode coba-coba atau untung-untungan. Cara ini dapat diibaratkan seperti seekor kera yang mencoba meraih pisang dalam sebuah kerangkeng dari percobaan kohler, seorang psikolog jerman. Kera kera itu dengan cara coba-coba akhirnya dapat juga meraih pisang dengan menggunakan tongkat.
     Pengetahuan manusia yang diperoleh melalui cara ini banyak sekali, yaitu sejak zaman manusia purba sampai sekarang. Banyak pula penemuan hasil “Trial and error” sangat bermanfaat bagi manusia, misalnya, dikemukakannya rendaman kulit kina untuk obat malaria. Penemuan dengan cara coba-coba ini jelas tidak efisien sebagai suatu cara untuk mencari kebenaran.
     Zaman yunani orang cenderung untuk mengikuti saja ajaran dari “para ahli pikir” ataupun para penguasa. namun, ajaran-ajaran ini ternyata banyak yang keliru karena ahli-ahli pikir itu terlalu mengandalkan atas pemikiran atau akal sehat dan kebenaran yang dianut itu adalah yang masuk akalnya. Contohnya setiap hari kita melihat matahari terbit ditimur lalu terbenam dibarat. Maka nasuk akallah bila dikatakan bahwa matahari beredar mengelilingi bumi. Contoh lain, bila kayu dibakar maka berubah jadi api, udara dan abu (tanah). Maka menurut akal sehat untuk dasar pembentuk kayu itu adalah tanah, api dan udara.
     Pengetahuan yang didapat dengan cara-cara tersebut diatas termasuk pada golongan pengetahuan yang tidak ilmiah. Lalu bagaimanakah pengetahuan yang ilmiah atau cara yang disebut “ilmu pengetahuan” itu ? jawaban singkat dari pernyataan tersebut diatas adalah sebagai berikut,
     Pengetahuan dapat dikatakan ilmiah bila pengetahuan itu memenuhi empat syarat : obyektif, metodik, sistematik, dan universal (berlaku umum).
1)      Objektif
Artinya pengetahuan itu sesuai dengan objeknya. Maksudnya adalah bahwa kesesuaian itu dibuktikan dengan hasil pengindraan atu ampiris.
Contoh : Galileo dapat dianggap tokoh perintis ilmu pengetahuan khususnya ilmu alam, karena ia berani menantang kepercayaan yang ada pada masa itu yang berani yang berlawanan dengan hasil pengamatannya. Ia mengajarkan kepada murid-miridnya untuk tidak begitu saja mempercayai ajaran Aristoteles dan hendaknya melakukan eksperimen serta membuat kesimpulan atas hasil observasinya itu. Singkatnya Galileo mendambakan “kebenaran” yang objektif atas dasar ampiris.
2)      Metodik
Artinya pengetahuan itu diperoleh dengan menggunakan cara-cara tertentu yang teratur dan terkontrol.
3)      Sistematik
Artinya pengetahuan ilmiah itu tercantum dalam suatu sistem, tidak berdiri sendiri, satu dengan yang lain saling berkaitan, saling menjelaskan sehingga yang seluruhnya merupakan satu kesatuan.
4)      Berlaku umum (universal)
Artinya pengethuan itu tidak hanya berlaku atau dapat diamati oleh seseorang atau oleh beberapa orang saja tetapi semua orang, dengan cara eksperimental yang sama akan memporoleh hasil yang sama atau konsisten.
Contoh : melalui teropongnya Galileo menemukan adanya gunung-gunung dibulan. Pengetahun ini tidak hanya berlaku bagi Galileo, tetapi setiap orang bila menggunakan teropong yang sama dengan cara yang sama akan memperoleh pengetahuan yang sama, yaitu, bahwa dibulan ada gunung-gunung.

B.  Langkah-Langkah Operaional Metode Ilmiah
            Salah satu syarat ilmu pengetahuan ialah bahwa materi pengetahuan itu harus diperoleh melalui metode ilmiah, ini berarti bahwa cara memperoleh pengetahuan itu menentukan apakah pengetahuan itu termasuk ilmiah atau tidak. Metode ilmiah tentu saja harus menjamin akan menghasilkan pengetahuan yang ilmiah, yaitu yang bercirikan objektivitas, konsisten dan sistematik.
             Langkah-langkah operasionalnya adalah sebagai berikut,
1)      Perumusan masalah
Yang dimaksud dengan masalah disini adalah merupakan pertanyaan, apa, mengapa, ataupun bagaimana tentang objek yang diteliti. Masalah itu harus jelas batas-batasnya serta dikenal faktor-faktor yang mempengaruhinya.
2)      Penyusunan hipotesis
Yang dimaksud sengan hipotesis adalah suatu pernyataan yang menunjukkan kemungkinan-kemungkinan jawaban untuk memecahkan masalah yang telah ditetapkan. dengan kata lain, hipotesis merupakan dugaan yang tentu saja didukung oleh pengetahuan yang ada. Hipotesis juga dapat dipandang sebagai jawaban, sementara dari permasalahan yang harus diuji kebenarannya dalam suatu obsevasi atau eksperimentasi.


3)      Pengujian hipotesis
Yaitu berbagai usaha pengumpulan fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis yang telah diajukan untuk dapat memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis  tersebut atau tidak. fakta-fakta dapat diperoleh melalui pengamatan langsung dengan mata atau melalui teleskop atau dapat juga melalui uji coba atau eksperimentasi, kemudian faktor-faktor itu dikumpulkan melalui penginderaan.
4)      Penarikan kesimpulan
Penarikan kesimpulan ini didasarkan atas penilaian melalui analisis dari fakta-fakta (data) untuk melihat apakah hipotesis yang diajukan itu diterima atau tidak. Hipotesis itu dapat diterima merupakan suatu pengetahuan yang kebenarannya telah diuji secara ilmiah , dan merupakan bagian dari ilmu pengatahuan.
     Keseluruhan langkah tersebut diatas harus ditempuh melalui urutan yang teratur dimana langkah yang satu merupakan landasan bagi langkah berikutnya. Dari keterangn-keterangan tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa ilmu pengetahuan merupakan pengetahuan telah teruji secar ampiris.

C. Keterbatasan dan keunggulan metode ilmiah
1)      Keterbatasan
     Dengan metode ilmiah dapat dihasilkan pengetahuan yang ilmiah, kita telah mengetahui bahwa data yang digunakan untuk mengambil kesimpulan ilmiah itu berasal dari pengamatan. Kita mengetahui pula bahwa panca indra kita juga mempunyai keterbatasan kemampuan untuk menangkap suatu fakta, sehingga tidak disangsikan lagi bahwa fakta-fakta yang dikumpulkan adalah keliru sehingga kesimpulan yang diambil dari fakta-fakta yang keliru juga akan keliru. Jadi kemungkinan keliru dari suatu kesimpulan ilmiah itu tetap ada. Oleh karen itu semua kesimpulan ilmiah atau dengan kata lain kebenaran ilmu pengetahuan termasuk ilmu pengetahan alam (IPA) bersifat tentatif. Artinya, sebelum ada kebenaran ilmu yang dapat menolak kesimpulan itu maka kesimpulan itu dianggap benar. Sebaliknya, kesimpulan ilmiah yang dapat menolak kesimpulan ilmiah terdahulu menjadi kebenaran ilmu yang baru, sehingga tidak mustahil suatu kesimpulan ilmiah bisa saja sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Tidak demikian halnya dengan pengetahuan yang didapat dari wahyu ilahi. Kebenaran dari pengetahuan ini bersifat mutlak, artinya tidak akan kembali sepanjang masa.
     Metode  ilmiah memang tidak sanggup menjangkau untuk menguji adanya tuhan, metode ilmiah juga tidak dapat menjangkau untuk membuaat kesimpulan berkenaan dengan baik dan buruk atau sistem nilai, juga tidak dapat menjangkau tentang seni dan keindahan.
2)      Keunggulan
     Seperti telah dijelaskan bahwa ciri khas ilmu pengetahuan yang sifatnya objektif, metodik, sistematis dan berlaku umum itu akan membimbing kita pada sikap ilmiah yang terpuji sebagai berikut:
a.  Mencintai kebenaran yang objektif adil dan itu semua akan menjurus kearah hidup yang bahagia.
b. Menyadari bahwa kebenaran ilmu itu tidak absolut, hal ini dapat menjurus kearah mencari kebenaran itu terus menerus.
c.  Dengan pengetahuan, orang lain tidak percaya pada takhayul, astrologi maupun untung-untungan karena sejak sesuatu dialam semesta ini terjadi melalui suatu proses yang teratur.
d. Ilmu pengetahuan membimbing kita untuk ingin tahu lebih banyak. Ilmu pengtahuan yang kita peroleh tentunya akan sangat membantu pada kehidupan kita.
e. Ilmu pengetahuan membimbing kita untuk, tidak berfikir secara prasangka tetapi berfikir secara terbuka atau objektif, suka menerima pendapat orang lain atau bersikap toleran
f.  Metodeilmiah membimbing kita untuk tidak percaya begitu saja pada suatu kesimpulan tampa adanya bukti-bukti yang nyata.
g. Metode ilmiah juga membimbing kita selalu bersikap optimis, teliti dan berani membuat suatu pernyataan yang menurut keyakinan ilmiah kita adalah benar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar